Menurut Kantor Berita ABNA, Khatib Shalat Jumat Tehran menilai penyadapan pembicaraan telepon petinggi negara-negara dunia oleh Amerika Serikat membuktikan kebenaran Iran dalam membongkar markas spionase Amerika di Iran di periode awal kemenangan Revolusi Islam.
Ayatullah Ahmad Khatami, Khatib Shalat Jumat Tehran mengatakan, "Penyadapan pembicaraan telepon 25 petinggi negara-negara dunia termasuk Angela Merkel, Kanselir Jerman bersumber dari karakter congkak dan haus perang Amerika."
Khatib Shalat Jumat Tehran menamai peristiwa 13 Aban (penanggalan nasional Iran), ketika markas spionase Amerika diduduki mahasiswa Iran, sebagai Revolusi Kedua bangsa Iran anti-imperialisme. Ia menegaskan, "Rakyat Iran dengan berlandaskan kepada ajaran dan perintah Al Quran, telah menjadikan perlawanan terhadap imperialisme sebagai jalan hidupnya."
Ia menganggap perlawanan adalah satu-satunya jalan dalam menghadapi imperialisme dan despotisme. "Pengalaman membuktikan kepada kita bahwa Amerika tidak pernah menjalin hubungan dengan negara lain berdasarkan niat baik dan tidak pernah melangkah sesuai dengan kepentingan bangsa manapun," katanya.
Ayatullah Khatami di bagian lain khutbahnya menilai strategi baru juru runding nuklir Iran dengan Kelompok 5+1 di Jenewa sangat baik dan konstruktif. Menurutnya strategi baru yang sepenuhnya berada dalam kerangka arahan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dan dilakukan berdasarkan kemuliaan, kebijaksanaan serta kemaslahatan itu mendapat dukungan dari rakyat Iran.
Terkait tekanan-tekanan dan ancaman Amerika terhadap Iran berkenaan dengan masalah nuklir, Ayatullah Khatami menjelaskan, "Untuk memperoleh haknya, bangsa Iran akan berdiri menghadapi Amerika dalam kondisi apapun."
Menyinggung dukungan Amerika atas kelompok teroris dan Takfiri dalam membantai rakyat Suriah, Irak dan Afghanistan, juga upaya menciptakan perpecahan di antara umat Islam, Ayatullah Khatami mengatakan, "Dengan menyerang Irak dan Afghanistan, Amerika tidak mendapat apa-apa kecuali kebencian. Washington bahkan terpaksa keluar dari Irak tanpa hasil setelah bercokol selama 10 tahun di sana."
Mereaksi laporan terakhir Ahmed Shaheed, Pelapor Khusus PBB terkait kondisi Hak Asasi Manusia di Iran, Khatami mengatakan, "Laporan tidak berdasar yang disampaikan Ahmed Shaheed dibuat berdasarkan statemen-statemen bohong kelompok teroris dan sama sekali tidak bernilai."
Ia menambahkan, "Pelapor PBB menuduh Iran melanggar HAM, padahal Amerika terus melakukan penyiksaan terhadap para tahanan di penjara-penjara rahasianya dengan cara yang paling kejam.
Ayatullah Khatami juga menyampaikan ungkapan belasungkawa atas gugurnya 14 penjaga perbatasan Iran di tangan kelompok teroris di Saravan, Tenggara Iran kepada keluarga serta rakyat Iran dan memperingatkan, "Republik Islam Iran akan memberikan jawaban tegas atas kejahatan ini."
Ia menilai Iran sebagai korban terorisme terbesar di dunia dan meminta pemerintah Pakistan agar mengerahkan seluruh upayanya untuk meringkus dan menindak para pelaku serangan teror di Saravan, Iran.